Aku yang melangkah Pertama
Aku tak pedull siapa yang berjalan bersamaku. Jika langkahku sepi, maka biarlah derap hatiku yang menggema di sepanjang jalan ini. Ada yang bilang perjuangan adalah tentang menemukan tempat ditengah barisan.
Tapi bagaimana jika aku tak pernah melihat barisan itu? Bagaimana jka arah yang kau pilih belum pernath ditelapaki. Maka, biarlah aku jadi yang pertama menggores jalurnya meski hanya dengan luka dan keyakinan.
Aku tidak tahu siapa yang akan tetap tinggal di sisiku saat jalan ini mulai sepi. Dan mungkin memang bukan tugas siapa pun untuk bertahan di sisiku. Aku tidak pernah menuntut kehadiran yang menetap. Tdak memaksa siapapun untuk memahami arah yang kuplih, sebab yang kumiliki sejak awal bukanlah peta, melainkan keyakinan yang seringkall tak terdengar dan keberanian yang terkadang tak sempurna.
Tapi justru disitulah aku belajar mengenal diriku sendiri. Saat tak ada suara yang menggema, saat tak ada tangan yang menggenggam, aku mulai mendengar derap langkahku sendiri, pelan, tapi nyata. Sunyi, tapi jujur.
Ada kalanya aku bertanya, mengapa jalanku terasa begitu asing? Mengapa bayang-bayang orang lain nampak begitu jauh, sementara aku harus terus berjalan sendirian di antara sunyi yang bahkan tak menoleh? Tapi lama-kelamaan aku mulai memahami, tidak semua perjalanan diciptakan untuk dilalui bersama.
Ada jalan-jalan yang memang harus dimulai sendiri, bukan karena kesombongan, tapi karena kesadaran. Karena ada keyakinan yang tak bisa diwariskan, ada pilhan yang tak bisa diwakilkan. Dan ketika semua orang menunggu arah, aku memilih untuk jadi arah itu.
Aku tahu banyak orang mencari tempat di tengah kerumunan, ingin menjadi bagian dari sesuatu yang telah terbentuk. Tapi bagaimana jka aku tidak pernah melihat kerumunan atau. Bagaimana jika yang kulihat hanya tanah kosong dan langit luas yang belum pernah disentuh mimpi siapa pun?
Maka aku tak bisa menunggu. Aku tak boleh menunggu. Aku harus menjadi awal dari sesuatu yang belum ada. Dan untuk itu, aku harus siap menapaki jalan yang belum ditapaki, meski harus melangkah dengan kaki yang gemetar, meski harus berdarah dalam sunyi yang panjang.
Aku tau akan banyak yang tidak faham, akan ada tawa pelan yang dibelakang, menyebut langkahku naif, menyebut mimpiku terlalu tinggi, menyebut keyakinan ku seperti asap yang akan hilang tertiup angin
Aku tidak mencari sorak. Tidak menunggu ada yang bertepuk tangan saat aku berani. Yang kucari bukan pengakuan, tapi makna. Dan makna itu. sering kali tak ditemukan dalam keramaian. Ia hadir dalam malam yang panjang, dalam doa yang lirih, dalam tangis yang tak sempat dijelaskan, dalam keputusan yang diambil saat tidak ada seorang pun memberi petunjuk.
Aku tahu, makna yang seperti itu tidak mudah. Tapi aku juga tahu, itulah yang membuat langkahku terasa hidup. Setiap luka yang kuterima bukan sia-sia, setiap jatuh yang kualami bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa aku masih mencoba. Masih hidup. Masih percaya.
Dan jika hari ini tidak ada yang menggenggam tanganku, jika tak ada satu suara pun yang menjawab, tekadku di udara, maka biarlah aku yang menjawabnya sendiri. Bukan karena aku tak butuh orang lain, tapi karena aku mulal memahami bahwa keberanian sejati adalah ketika aku tetap melangkah mesi hanya ditemani oleh gema langkahku sendiri.
Bukan yang paling keras, bukan yang paling cepat tapi yang paling setia. Dan kesetiaan itu harus dimulai dari diriku sendiri.
Mungkin ini bukan jalan yang indah. Tidak penuh bunga, tidak dipenuhi pelangi, tidak dilapisi sambutan hangat. Tapi ini jalan yang kupilih, dengan seluruh sadar dan rapuhku. Dan di jalan ini, setiap langkah bukan hanya perjalanan ke depan, tapi perjalanan ke dalam. Aku belajar mengenal diriku.
Menerima bahwa terkadang aku takut elah dan ingin berhenti. Tapi aku juga belajar, bahwa dalam setiap keinginan untuk menyerah, ada bisikan kecil yang berkata Bertahanlah. Suara yang nyaris tenggelam tapi terus hidup. Karena itu aku percaya, harapan tidak selalu datang dari luar.
Kadang, ia tumbuh dari dalam, dari luka yang perlahan mengering, dari malam yang perlahan berlalu, dari keheningan yang ternyata tak sepenuhnya kosong.
Jika tak ada awal, maka biarlah aku yang menjadi awal itu. Jika tak ada pintu, maka akan kutempa dari batu keyakinanku sendiri. Bahkan jka tampak mustahil, aku akan tetap melangkah, karena yang sering dianggap mustahil. hanyalah yang belum dicoba cukup lama.
Aku lidak sedang menantang dunia. Aku hanya sedang jujur pada jalanku. Dan jika kejujuran itu harus dibayar dengan kesepian, maka biarlah. Aku akan menyalakan pelita kecil dalam dadaku, dan berjalan dengan cahaya itu meski kecil, meski redup, tapi nyata.
Dan saat dunia menertawakan niatku yang tampak kecil dan tak masuk akal, aku akan tetap menyamai langkah. Sebab aku tahu, bunga pertama pun tumbuh di tanah yang tak dijanijikan hujan. Karena kemenangan, bagiku, bukan tentang mencapai puncak, tapi tentang terus bertahan.
Tentang tidak berhenti. Tentang terus menjadi jujur pada apa yang hidup dalam diriku. Maka hari ini, dan setiap hari setelah ini, aku akan tetap berjalan. Meski tanpa sorak, tanpa iring-iringan, tanpa jaminan, Sebab aku percaya, dinding pun bisa retak oleh keteguhan. Dan dibalik dinding yang retak, cahaya selalu menunggu.
Aku tidak tahu siapa yang akan berjalan bersamaku sampal akhir. Tapi aku tau satu hal: aku akan terus berjalan. Sebab ini jalanku dan aku adalah langkah pertamanya.
Demikian..
Komentar
Posting Komentar