Jalan kita yang panjang.


Aku tak pernah berniat mencari. Bukan karena tidak ingin, tapi karena aku terlalu sibuk bertahan, terlalu lelah menambal bagian-bagian yang retak dalam diriku sendiri.

Aku berjalan bukan untuk menemukan, melainkan untuk pulang pada tenang, pada Tuhan, pada versi diriku yang tidak selalu harus kuat tapi selalu ingin menemukan yang benar.

Tapi semesta, dengan cara yang lembut dan misterius, justru mengarahkanku kehadapan mu. Seperti ada kompas yang tak kasat mata, yang membawa langkahku ke tempat dimana aku tak pernah berniat tiba.

Dan disanalah aku berdiri, bukan sebagai seseorang yang ingin memiliki, tapi seseorang yang ingin memahami. Bahwa cinta bisa hadir tanpa diminta. Bahwa perasaan bisa tumbuh bahkan di tanah yang tak pernah kuberi benih.

Wama tashauna illa an yasha Allah - "Kamu tidak akan bisa menginginkan sesuatu, kecuali jika Allah mengizinkan". Dan mungkin, itulah titik awalnya. Aku mulai percaya bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dikejar agar sampai. Ada cinta yang tidak perlu dicari agar ditemukan. 

la datang bukan karena aku pantas, tapi karena aku sudah disiapkan untuk belajar: tentang keikhlasan, tentang sabar tentang pengorbanan yang tidak melukai, dan tentang bagaimana mencintai, bisa menjadi bentuk tertinggi dari ibadah.

Wakafa bilahi syahida "Cukuplah Allah sebagai saksi". Bahwa aku mencintaimu dengan cara yang tak banyak kata, tapi penuh doa. Dengan ketulusan yang tidak selalu tampak, tapi mengakar kuat dalam keyakinan.

Karena jika cinta ini hanya untuk dunia, ia sudah lama hancur oleh ketakutan dan kehilangan. Tapi karena cinta ini kuserahkan kepada-Nya, maka ia tetap hidup meski tak pernah tergenggam dan aku mulai mengerti.

Bahwa mencintaimu tidak membuatku lebih dekat pada dunia, tapi lebih dekat pada Sang Pencipta. Karena lewat perasaan ini, aku belajar menundukkan ego, menjaga hati dan merawat lisan. Aku belajar bahwa cinta bukan tentang merayu atau menahan, tapi tentang melepaskan dengan pengharapan yang tak putus.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a`yun, waj'alna lil muttaqina imama "Tuhanku, anugerahkanlah untuk kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi rang-orang yang bertakwa".

Mungkin itu doaku. Mungkin itu harapanku yang paling diam. Bukan agar seseorang datang dan berkata "Aku milikmu,"  tetapi jika memang ada seseorang dalam takdirku, ia datang bukan hanya membawa nama tapi membawa pulang menuju surga. Karena cinta yang sejati bukan hanya membuat sibuk mengejar validasi, tapi yang membuatku semakin rindu pada Allah.

Dan jika suatu hari langkah kita berjarak, aku ingin tetap tenang. Karena aku tahu, jika Allah yang menautkan, maka tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kecuali untuk menguatkan. Dan jika ternyata kamu bukan untukku, maka cinta ini tetap tidak sia-sia. Karen ia telah memperbaliki aku, menuntunku, dan memperkenalkanku pada bentuk cinta yang paling sunyi tapi paling suci.

Fa inna ma'al usri yusra. "Sesungguhnya bersama kesulitan". Selalu ada kemudahan. Termasuk kesulitan mencintai dengan cara yang benar, mencintai tanpa harus memiliki. Tapi jika aku berhasil melewatinya, maka aku tahu bahwa aku sedang tumbuh.

Aku tak pernah berniat mencari, tapi semesta mengarahkan langkahku ke hadapanmu, bukan untuk memilikimu, tapi untuk melihat: Bahwa mencintaimu adalah cara Allah menuntunku mencintai diri sendiri dan kepadanya dengan lebih dalam. 

Karena cinta ini tidak pernah ingin sekadar menjadi cerita. Ia ingin menjadi jalan-jalan yang sunyi tapi selamat. Jalan yang penuh air mata tapi penuh cahaya.

Dan jika aku hanya diberi peran sebagai seseorang yang mendoakanmu diam-diam, maka biarlah peran itu kutunaikan dengan sebaik-baiknya. Karena di antara aku, kamu, dan Tuhan yang Maha Menyaksikancinta ini tidak pernah sia-sia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama