Dimata mu terdapat wajah ku


Hingga kau pergi, aku tak mampu menulis satu puisi, yang menyerupai keindahan mata mu, senyummu dan tawamu. Ya seperti matamu.

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana menciptakan mata.

Setelah kau pergi, aku ingin menemukan rahasia kata, mulai menghapus puisi tentang air mata dan duka, tapi apa sebuah kata bisa menjadi tawa dan mata?

Ya, di Matamu.

Di matamu aku lihat wajahku jadi pohonan tua dan mataku adalah dua lembar daun yang kisut, pelan-pelan basah oleh rimbun embun terakhir
yang hangat dan sangat mencintai keduanya.

Di matamu masih akan terbitkah pagi lagi bagi mataku atau matiku? Sebab dua daun jatuh itu, sungguh akan selalu berkeras kembali mencari
ranting pohon yang pernah memeluk keduanya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama