Rindu yang tidak pernah selesai
Kutitipkan rindu bersama hembusan angin
Kutitipkan wanginya angan ku bersama bunga yg mekar dan menawan.
Kutitipkan rasa dan asa ku bersama burung-burung yg terbang di angkasa.
Sampai suatu saat engkau tau apa yg sebenarnya terjadi di kehidupanku ini, bahwa Cintaku, Rasaku, Rinduku, bahkan lamunanku hanya wajah mu yg nampak.
Ya, begitulah cinta yang ku alami hari ini tiada henti untuk menjujung tinggi namamu dalam doa. Percaya atau tidak tuhan lah yang menjadi saksi bisu, sementara keluarga ku hanya penikmat sedu dan kamu penyiksa yang tersipu malu tanpa ragu.
Tuhan.
Cobaan berat apalagi yang kau titipkan ?
Haruskah aku mengeluh tuhan?
Sesekali hujan datang dan angin malam bertiup kencang, seperti katamu malam takkan menunggu, bagaimana dengan candu ku yang ku sebut sebagai cinta dan rindu? Entahlah hanya kau yang tahu.
Ya, bahkan kau telah lupa pada diriku, ada yang begitu keras dalam kepala, tentang ingatan yang dulu memperkenalkan diri sebagai Kita sebagai aku dan kamu yang keterikatan.
Sudahlah, tak tahu aku harus menulis apa lagi, puisiku habis dirampasmu dulu.
Kutitipkan wanginya angan ku bersama bunga yg mekar dan menawan.
Kutitipkan rasa dan asa ku bersama burung-burung yg terbang di angkasa.
Sampai suatu saat engkau tau apa yg sebenarnya terjadi di kehidupanku ini, bahwa Cintaku, Rasaku, Rinduku, bahkan lamunanku hanya wajah mu yg nampak.
Ya, begitulah cinta yang ku alami hari ini tiada henti untuk menjujung tinggi namamu dalam doa. Percaya atau tidak tuhan lah yang menjadi saksi bisu, sementara keluarga ku hanya penikmat sedu dan kamu penyiksa yang tersipu malu tanpa ragu.
Tuhan.
Cobaan berat apalagi yang kau titipkan ?
Haruskah aku mengeluh tuhan?
Sesekali hujan datang dan angin malam bertiup kencang, seperti katamu malam takkan menunggu, bagaimana dengan candu ku yang ku sebut sebagai cinta dan rindu? Entahlah hanya kau yang tahu.
Ya, bahkan kau telah lupa pada diriku, ada yang begitu keras dalam kepala, tentang ingatan yang dulu memperkenalkan diri sebagai Kita sebagai aku dan kamu yang keterikatan.
Sudahlah, tak tahu aku harus menulis apa lagi, puisiku habis dirampasmu dulu.
Komentar
Posting Komentar