Subuh ku yang gelap


Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, janji sehidup semati mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari? Tak usah kau balas biarkan pesan ini masuk seperti angin yang membelai.

Aku sempat cemburu pada awan, yg sering kali kau pandang sebab cara mu melihat, bukan dari luar melainkan isi dari setiap kedalaman (Hati). Nyatanya, hatiku tak cukup menjadi rumah bagi jiwa petualang mu.

Nyatanya, cintaku tak mampu mendinginkan panasnya geloramu. Lalu aku bisa apa?
Mengais belas kasihanmu yg kau cecer sepanjang jalan?

Bukan, itu bukan cinta Jika hanya membawa luka dan derita, sebab cinta adalah rasa sabar yg tak jauh seperti purnama.

Karna, setiap orang memiliki batas kewarasannya masing-masing. Hanya saja, memilih bertahan, diam, atau melepaskan adalah kesepakatan hati dan akal. Pun kau yang sering pulang bertandang dan pergi menghilang semoga itu hanya angan yang menjadi angin !

Dengar baik-baik, selalu ada yang melintas di kepala ku, entah itu senyummu, atau bau kentut mu yg hanya bisa ku reka, lagi-lagi cinta selalu punya caranya sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang dan itu terisi dalam pikiran ku!

Dalam beberapa hari ini ceritaku akan jadi cerita kita saat kita bertemu. Semoga hati mu sesuai harapan ku, sebab tidak ada lagi yang bisa aku perbuat selain balas cinta mu.

Ya. Tak tau ini apa yg aku tulis. Bukan puisi atau sajak apalagi syair hati. Tapi ini lah isi hati ku disubuh ini.

Tidurlah, sebab cinta dan rindu juga butuh istirahat.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama