Duka, Diwaktu Yang Sama (Nasihat Kecil Untuk Seorang Teman)
Jika Nanti Tak Bersamanya. Bagaimana rasanya mencinta sedalam samudra, tapi tak pernah bisa menyentuh dermaga? Mungkin seperti berlayar
tanpa peta, hanya mengandalkan cahaya dari dalam dada.
Jika nanti tak bersamanya, dan kamu temukan dirimu duduk di pelataran senja, memeluk sepi layaknya sahabat lama, jangan tergesa menghapus air mata. Mungkin itu bukan duka melainkan cara langit menaburkan cahaya.
Pernah ada nama yang kmu bisikkan dalam tiap sujud dan pinta. Kamu selipkan di antara harapan dan nestapa, seolah. Tuhan tahu betapa tulusnya cinta. Tapi cinta tak selalu tinggal di rumah rencana. Kadang ia menjelma luka yang tak
dapat dihapus waktu atau doa hanya diterima sebagai garis takdir semesta
Ia yang kmu cinta dalam diam dan derita, mungkin memang bukan takdir bersama. Tapi bukankah Tuhan itu Maha Indah dalam tiap rahasia? Ia titipkan rasa bukan untuk menyesakkan dada, melainkan mengajarkan makna. Bahwa kehilangan bukan kiamat rasa, tapi awal lahirnya cahaya.
Jika nanti tak bersamanya, bukan berarti semesta mengejek doa. Bisa jadi, namanya ditulis untuk menuntun langkahmu ke arah yang lebih mulia. Dan kelak, saat hatimu telah lega, kmu akan tahu: tak bersama bukan akhir cerita. Asal kmu mampu mencinta tanpa cela dan merelakan dengan jiwa
yang berserah kepada-Nya.
Cinta vang tak bersatu tetap punya makna. Ia
mengalir seperti sungai menuju samudra. Ia menyalakan lentera di lorong sunyi bernama percaya.
Jika nanti tak bersamanya, percayalah: Tuhan tak pernah salah dalam menulis takdir-Nya
Komentar
Posting Komentar