Aku Yang Kembali Belajar

Ketika tuhan menulis puisi; “kun!” jadilah kita, kata-kata yang menemukan luka sebagai takdirnya.

Atau seperti memancing ikan, gimana rasanya menunggu respon Ikan, sedangkan ikan itu tidak tertarik pada umpanmu. Bagaimana?

Ya. Jatuh hati padamu, adalah hal tergila yang aku lakukan tahun ini. Dengan sadar dan tanpa seizinmu, aku membawa namamu dalam dialog sunyi dengan Tuhanku. Aku tak meminta dirimu ecara utuh, Karena cinta bukan hanya penerimaan dan penolakan. Lebih jauh dari itu, kamu akan menjadi keabadian dalam cinta yang sederhana.

Dan pada akhirnya aku mengalah, merela sesuatu yang tak pernah singgah. Dan membiarkan luka yg bingung menerima kejelasanya. Entah lah.

Aku akan tetap mendoakan bawa pilihan mu baik untuk mu. Bahwa pilihan mu akan kekal untuk mu, semoga selalu abadi dalam mengiri cinta yang tanpa kemunafikan. 

Remuk, remuk dan remuk aku. Hancur aku tak bertepian. Tapi itu adalah kenyataan yang harus di telan. Semenyakitkan ini jatuh hati pada mu dekkk.

Pernahkah kamu menjaga sesuatu sepenuh doa, lalu ia pergi tanpa sisa? Pernahkah kamu mencinta dengan segenap rasa, tapi semesta menjawab dengan luka?

Di situlah aku berada di persimpangan antara menggenggam dan melepaskan, antara ingin menetap dan kenyataan yang tak mengizinkan.

Dulu aku kira, yang kujaga takkan pernah sirna. Bahwa cukup dengan setia, dunia akan membalas dengan bahagia. Namun hidup, dengan caranya yang sunyi tapi nyata, mengajarkan bahwa tak semua yang datang ditakdirkan untuk bersama.

Ada yang hadir hanya sebentar, meninggalkan jejak yang tak mudah menghilang dari dengar dan sadar. 

Ada pula yang singgah membawa gelap, lalu menghilang perlahan tanpa sebab yang sempat kupeluk dalam harap. Dan aku pun belajar mencinta tanpa menggenggam, mengikhlaskan tanpa merasa hilang, mendoakan tanpa mengundang, dan menunggu tanpa menggantungkan harapan pada datang.

Sebab kini aku tahu, merelakan bukan tentang kehilangan, tapi tentang menguatkan hati yang pernah bergantung pada bayangan. Tentang menengadah saat semesta tak mengizinkan dan berjalan meski tanpa genggaman.

Jika kamu sedang berada diantara luka dan percaya, maka dengarlah. Merelakan bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari jiwa yang pulang dengan makna dan berserah hanya kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama