Api yang sempat padam

Aku tidak tahu pasti kapan tepatnya semuanya mulai mati didalam diriku. Mungkin bukan hari ini. Mungkin sudah lama. Tapi baru sekarang aku benar-benar menyadari, bahwa aku tidak lagi merasa. Bukan karena sembuh bukan karena kuat. Tapi karena terlalu sering hancur, sampai akhirnya tak ada lagi yang tersisa untuk dihancurkan.

Aku pernah menangis saat terluka. Pernah marah saat disakiti. Pernah takut, kecewa, gelisah, pernah jadi manusia seutuhya. Tapi sekarang? Rasanya seperti hidup dengan hati yang beku. Tidak mati, tapi tidak hidup juga. Seperi napas yang berjalan otomatis, bukan karena aku ingin, tapi karena tubuh belum menyerah.

Pernah dengar Suara kayu yang terbakar pelan dalam bak sampah? la tak berteriak. Tak meledak. Tapi dirimu tahu ia sedang sekarat karena panas yang terus-menerus menyayat. Dan pada akhirnya, ia tidak menjadi abu karena terbakar hebat la menjadi abu karena terus menyala tanpa henti, tanpa jeda, tanpa istirahat, tanpa ruang untuk jadi dingin. Mungkin, aku seperti itu.

Dan semuanya bermula dari masalah-masalah yang datang tanpa permisi, Satu masalah, kutelan, Dua masalah kutahan. Tiga, empat, lima, entah sampai berapa lagi aku diam. Karena katanya, diam adalah bentuk kekuatan. Karena katanya, sabar akan diganti ketenangan. 

Tapi tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa kesabaran juga bisa membunuh, jika terus dipaksa tanpa ruang bernapas. Tidak pernah ada yang jujur bahwa menjad kuat bisa berarti perlahan-lahan kehilangan rasa. Sampai akhirnya, yang tertinggal hanyalah tubuh yang berjalan di atas kebiasaan bukan harapan. 

Aku terbiasa mengalah. Terbiasa mengerti. Terbiasa berpura-pura tidak apa-apa. Tapi tidak ada yang benar-benar tau rasanya duduk dalam gelap dan sadar bahwa aku tak lagi tahu bagaimana rasanya merasa bahagia. Atau sedih. Atau apapun. Bukan karena semua sudah membaik.Tapi karena semuanya sudah terlalu penuh dan aku terlalu lama diam.

Masalah datang dan aku tidak lagi melawan. Bukan karena pasrah, tapi karena kosong, Karena tubuh ini terlalu lelah untuk peduli. Karena setiap kali aku mencoba bertahan, selalu ada lagi yang datang menyusul masalah baru, luka baru, kecewa baru. 

Dan seperti ombak yang tak pernah berenti, semuanya menghantam tanpa memberi waklu untuk sembuh. Namun dunia bilang. "Kamu pasti bisa." Tapi dunia tak pernah bertanya, "Apa kamu masih ingin bisa?" Hingga akhirnya, aku tidak lagi merasa apa-apa. Tidak marah, tidak takut, tidak kecewa hanya sunyiiiiiii

Mungkin inilah yang disebut kematian tanpa kubur. Kematian yang tidak ditandai detak jantung terakhir, tapi ditandai hilangmya semua getaran rasa dalam dada. Kematian yang tidak didasari siapapun bahkan oleh diriku sendiri. Karena aku masih tersenyum, bicara, tertawa dan masih hidup seperti biasanya. Padahal didalamnya. Aku sudah tidak hidup lagi. Dan begitulah cara emosi mati. 

Bukam dalam satu hari, seminggu, sebulan bahkan setahun, tapi perlahan, saat tidak ada lahan untuk pulih. Saat tangis dianggap berlebihan. Saat kecewa dianggap drama. Saat aku lebih takut untuk menyusahkan orang lain. Dari pada mengakui bahwa yang sesungguhnya aku sedang hancur lebur.

Aku tidak ingin simpati. Tidak sedang meminta belas kasihan. Aku hanya ingin mengakui, kepada diriku sendiri, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bahwa aku sedang tidak kuat. Bahwa aku butuh waktu untuk kembali jadi manusia yang bisa merasa. Karena mati secara perlahan seperti ini, jauh lebih menyakitkan dari pada terluka sesaat.

Kadang aku bertanya untuk siapa semuan ini? 
Untuk siapa aku terus berpura-pura mampu? 
Untuk siapa aku terus menelan rasa yang tak bisa kucerna? 

Untuk siapa aku tetap bertahan, padahal hatiku sudah seperti rumah tua yang tak pernah direnovasi retak disana-sini, tapi masih dipaksa berdiri. Dan ironisnya, dunia lebih menghargai dinding yang tetap kokoh dari pada suara lirih dari dalam yang berkata, "Tolong, aku sedang tidak baik-baik saja.

Aku tau aku tidak senadirian. Di luar sana, ada banyak orang seperitiku, Tersenyum difoto, tengelam di malam. Menjawab baik dichat, padahal dada mereka sesak oleh hal-hal yang tak pernah bisa ditulis. Mungkin kamu juga salah satunya.

Dan jika ada satu hal yang bisa menyelamatkanku dari sunyi ini, mungkin itu adalah keberanian untuk berhenti membohongi diri. Untuk tidak lagi berkata gak apa-apa saat semuanya terasa runtuh. Untuk tidak terus bertahan di medan perang yang bahkan tak pernah kupilih. 

Tapi hari ini, aku ingin mengaku. Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku ingin hidup lagi. Aku ingin merasa lagi. Aku ingin menangis dan tahu bahwa air mataku masih jujur. Aku ngin marah dan tahu bahwa aku masih punya batas. Aku ingin kecewa, bukan karena drama tapi karena aku manusia yang berhak patah.

Dan jka semua ini harus dimulai dari satu kejujuran kecil. maka biarlah aku mulai dari sini. Aku sudah terlalu lama membiarkan diriku mati dalam diam. Dan sekarang, aku ingin pulang kedalam diriku sendiri. Bukan untuk langsung sembuh, bukan untuk langsung bahagia. Tapi untuk kembali merawat api yang sempat padam. Api yang membuatku merasa hidup. Yang membuatku peduli. Yang membuatku manusia. Karena bahkan abu pun bisa jadi tanah subur, asal diberi waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama