Dengan mu saja


Aku sedang tidak meminta dunia untuk berputar ke arah yang berbeda. Aku tahu porosnya terlalu keras kepala untuk diubah. Tapi jika diizinkan, bolehkah kali ini denganmu saja?

Aku bukan ingin mencuri takdir, hanya mencoba menawar sedikit waktu. Aku ingin duduk di sebelahmu tanpa harus terlalu banyak menjelaskan siapa diriku.

Aku ingin tertawa tanpa harus menyaring isi kepalaku. Aku ingin diam dan kamu mengerti itu bukan berarti tak ada cinta, hanya ada luka yang sedang dibereskan diam-diam.

Jika diizinkan, aku tidak minta banyak. Hanya sebuah kebersamaan yang tidak buru-buru, pelan-pelan tapi pasti, seperti air yang mengenal bentuk wadahnya, seperti kita yang mungkin bisa saling menerima sisa-sisa diri yang belum sempat sembuh sepenuhnya.

Bolehkah kali ini denganmu saja? Tanpa kompetisi. Tanpa teka-teki. Tanpa saling menebak siapa yang lebih mencintai siapa. Kita tidak perlu sempurna. Kita hanya perlu hadir dan tidak pergi tiba-tiba seperti yang lainnya.

Jika kamu butuh waktu, aku bisa menunggu. Jika kamu butuh ruang, aku bisa mengecil. Tapi jika kamu juga ingin yang sama, pulang yang tenang, pelukan yang tidak terburu-buru dan seseorang yang tidak hanya mencintaimu tapi juga memahami bagaimana kamu ingin dicintai -bolehkah aku?

Jika diizinkan, bolehkah kali ini denganmu saja?

Aku tahu, hidup tidak pernah sesederhana kalimat pendek itu. Selalu ada "tapi" dan "nanti dulu" di balik harapan-harapan kecil yang coba tumbuh dari luka-luka. Tapi aku lelah berjalan jauh untuk mencari rumah, sementara yang kutemukan hanya lorong-lorong yang sunyi. Dan kamu entah mengapa selalu terasa seperti alamat yang tak pernah gagal kubaca, meski tak pernah kutempati.

Kamu tahu? Aku pernah mencoba mencintai yang lain. Bukan karena mereka salah, hanya karena mereka bukan kamu. Ada yang mengajak tertawa, tapi tawa itu terasa seperti milik orang lain. Ada yang mencium keningku, tapi tidak bisa memeluk jiwaku yang terus-menerus gemetar.

Denganmu, segalanya tidak selalu mudah tapi selalu terasa cukup.

Aku tidak butuh pelangi setiap hari. Aku hanya ingin seseorang yang tetap tinggal bahkan ketika warnaku pudar. Seseorang yang memahamiku di hari aku tidak ramah pada diriku sendiri dan aku ingin itu kamu.

Dan andai semesta masih punya satu kesempatan untukku. Satu saja, au ingin mempergunakannya untuk bersamamu. Dalam segala ketidak sempurnaan yang kita miliki. Dalam segala musim yang akan datang. Dalam segala bentuk cinta yang tak selalu berbunga, tapi tak pernah mati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama