Kemana perginya hati yang patah?


Aku yang setiap hari berusaha menyelamatkan diriku dari banyaknya rasa cemas. Aku yang selalu bertarung hebat dengan rasa takut yang mungkin bagiorang lain itu adalah hal yang sepele, nyatanya itu masalah besar di kepalaku.

Tanpa mereka tau, bahwa sebenarnya aku hanya sedang berusaha menolong diriku. Aku ingin menghadapi malamku tanpa sulit tidur. Aku ingin terbangun bukan dengan tubuh yang lelah lagi. Dan aku ingin sekali sejenak mendengarkan kepalaku yang tidak penuh dengan trauma-trauma atau masalah yang sedang aku hadapi.

Malang sekali nasibku.

Kemana perginya hati yang patah?

Apakah ia menghilang bersama air mata yang jatuh tanpa suara, lenyap di balik senyuman yang pura-pura?

Kata teman ku. Hati yang patah sering tersesat di lorong kenangan, terjebak dalam ingatan yang enggan terlupakan, semakin keras ia berusaha, semakin dalam luka yang diterima.

Kata teman ku. Hati yang patah mencari pelarian di balik tawa yang dipaksakan. Ia berlari dari kenyataan, berharap waktu dapat menyembuhkan, ia jatuh berkali-kali dalam keputusasaan, terpuruk dalam sepi yang tak terucapkan, merindukan pelukan yang tak pernah dirasakan.

Hingga pada satu titik, saat semua jalan terasa buntu dan harapan terasa hampa, hati yang patah itu bersimpuh jatuh di dalam doa. Begitulah kata teman ku.

Kata teman ku juga. Hati yang patah, tak lagi melawan takdirnya, tak lagi memaksa dunia mengerti lukanya. Ia bersujud dalam keheningan yang dalam, menyerahkan segala luka dan kecewa kepada Sang Pemilik Alam. Air matanya jatuh tanpa diminta, mengalir bersama doa yang lirih dan patah-patah. Dan di sanalah, dalam sujud yang penuh keikhlasan, hati yang patah itu menemukan kedamaian.

Hati yang patah menemukan pelukan yang tak pernah pergi, kasih yang tak pernah mengkhianati dan cinta yang tak pernah menyakiti. Ia menyadari bahwa semua luka ini adalah jalan untuk kembali.

Lantas, kemana perginya hati yang patah? Ia tak pernah pergi ke mana-mana. Ia hanya kembali kepada Pemiliknya, kembali kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama