Purnama tak bernama

Dari jutaan makhluk yang diciptakan,
mengapa itu kamu? Sebuah pertanyaan filosofis yang selalu meuncul. Dirimu seperti purnama yang kebanyakan orang bilang mudah diterjemahkan. Tetapi untuk ku? Dirimu terlalu rumit!

Inilah, sebuah pertanyaan yang seolah menantang takdir, tapi, tetap saja jawabannya terpendam dalam hati yang tak bisa diuraikan. Dada ini terasa sesak, jantung ini berdegup tak terkendali dan seluruh tubuh ini seakan berada dalam cengkeraman takdir yang tak bisa kuhindari.

Tidak pernah kubayangkan, tidak pernah kurencanakan sedikitpun untuk jatuh hati padamu. Tapi sekarang, aku tersadar, bahkan bayangmu yang tampak samar bisa mengubah seluruh dunia di sekitar. Aku yang dikenal sebagai sosok yang tangguh, kini terjatuh, bersimpuh dalam kebodohan yang tak kuinginkan !

Tak ada yang lebih menakutkan selain kenyataan bahwa aku tidak lagi memegang kendali atas diriku sendiri.

Bayangmu, entah bagaimana caranya, telah mencuri pusat kendaliku. Aku merasa gila, terperangkap dalam labirin perasaan yang tak tahu arah. Tapi anehnya, ada bagian dari diriku yang merasa bangga sangat bangga karena aku tak pernah merasa sebebas ini sebelumnya. 

Sebuah kebodohan yang menyenangkan, sebuah kegilaan yang memberi ruang dalam kekosongan hatiku

Tanpa khayalan, aku akan kehilangan pijakan. Karena pada akhirnya hanya dalam dunia itu, di mana hadirmu, bisa membuatku menemukan sedikit kedamaian, sedikit alasan untuk bertahan.

Dan jika khayalan itu yang harus kubangun, maka biarlah aku terjebak di dalamnya, karena dalam bayang-bayangmu, aku menemukan secercah harapan yang sulit kujelaskan.

Aku tahu, ada langit yang tak bisa kuraih, ada takdir yang tak bisa kupaksa. Dan aku tak ingin jatuh mengejar sesuatu yang tak mungkin kumiliki.

Sengaja aku berdiri di tepian harap, menatap keindahanmu dari kejauhan. Seperti bulan yang mengagumi bumi, hanya cukup untuk menyinari

Seseorang pernah berkata; Langit itu pandanglah sebagai langit. Jangan pernah ingin memeluknya, jika engkau tak sanggup memilikinya, sebaiknya jangan.

Maka, biarlah aku mencintaimu dengan cara ini, dalam gemuruh, tanpa genggam. Jarak ini adalah caraku menjaga agar cinta ini tetap suci, agar namamu tetap menjadi doa yang mengalir tanpa pamrih

Karena mencintai bukan tentang memiliki, tapi tentang merelakan yang tak bisa digenggam. Aku memilih cemas, bukan karena rasa ini akan hilang, tapi karena cinta ini terlalu dalam untuk kuegoiskan.

Jika takdir mengizinkan, dan jarak juga terhapuskan, aku akan menyambutmu tanpa keraguan. Tanpa nama sebuah nama dengan arti (timbangan) ya seperti itulah nama mu. Maka timbanglah aku dengan kepastian. Timbanglah aku tanpa keraguan. 

Tapi jika tidak, biarlah namamu abadi dalam heningku. Seperti malam yang setia pada rembulan, mencintai dalam keabadian yang tak pernah tersampaikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama