Melawan Ketidak Mungkinan

Ada yang ahir dalam pelukan cinta, disambut dengan hangat, dengan nama yang dipilih penuh doa dan harapan. Ada juga yang lahir dalam keheningan, dalam kekacauan, atau bahkan dalam penolakan, seakan dunia sejak awal sudah memutuskan siapa yang pantas dicintai dan siapa yang pantas diabaikan. 

Tak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak kecil tahu rasanya dicintai tanpa syarat, ada pula yang tak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk karena benar-benar dinginkan. Ada yang dibiarkan tumbuh bersama mimpi, sementara yang lain dibesarkan dengan beban yang bahkan tak semestinya menjadi milik mereka.

Dari kecil kita diajarkan bahwa hidup itu tentang kerja keras. Tapi tak pernah ada yang bilang bahwa titik mulai kita, tidak sama. Dan itu bukan salah siapa-siapa. Tapi juga bukan hal yang bisa diabaikan.

Ada orang yang lahir dengan tubuh yang sehat dan ada yang harus menjalani hidup dan penuh perhatian, ada yang tumbuh dalam rumah yang sepi, retak, atau bahkan tak ututh dalam keterbatasan fisik yang tak peranah ia minta. 

Ada yang dibesarkan dalam keluarga yang layak disebut rumah. Ada yang mendapat cinta, ada yang hanya kenal kebencian. Ada yang setiap langkahnya dipuji, ada pula yang setiap kesalahannya diperbesar, seolah dunia hanya menunggunya ia gagal.

Orang-orang berkata, "Bersyukurlah." Seakan bersyukur adalah solusi dari segala luka. Seakan keadilan bisa diciptakan hanya dengan menerima, Tapi aku tau, kita semua pernah sampai dititik di mana bersyukurpun terasa seperti luka yang dibungkam.

Dunia ini keras. Bukan hanya karena realitas yang tajam, tapi karena tak semua hal bisa dikendalikan. Kita tidak bisa memilih dilahirkan di mana, oleh siapa, dalam keadaan apa. Kita tidak bisa memilih warna kulit kita, bentuk tubuh kita, bahkan kondisi mental kita. 

Tapi semua itu akan menjadi bahan penilaian dunia, seolah-olah kita punya kendali sejak lahir, padahal tidak. Dan meskipun begitu, kita tetap dipaksa berjalan. Dipaksa kuat. Dipaksa untuk "Tetap semangat walau tak ada yang benar-benar melihat is dari beban yang kita pikul".

Ada yang sejak lahir sudah diberi jalan. Diperkenalkan pada kemungkinan, pada Jejaring dan Akses, pada Peluang. Ada juga yang bahkan tidak tahu mimpi itu apa. Karena sejak kecil ia hanya tau bagaimana caranya bertahan. Ada yang dicintai tanpa diminta, ada yang dimusuhi tanpa sebab. 

Ada yang hidupnya dirayakan dan ada pula yang sejak awal keberadaannya dianggap kesalahan. Dan yang lebih menyakitkan, tidak semua luka terlihat. Ada yang terluka secara fisik, ada yang hancur secara emosional, tapi tak ada yang bertanya, sebab selama tampak baik dari luar, maka dianggap baik sepenuhnya.

Sebagian orang bilang. Dunia tidak adil. Itu fakta, bukan keluhan. Tapi justru karena dunia tidak adil. Aku memilh untuk tetap menjadi manusia seutuhnya. Aku memilh untuk tidak menjadi seperti dunia yang menggertak tanpa rasa. Aku memilih untuk tidak mengulang luka yang sama pada orang lain.

Aku tau kita memulai dari tempat yang tidak sama dan ada yang terasa lebih beruntung. Tapi aku juga tau, kita tidak sendirian dalam hai ini. 

Ada begitu banyak dari kita yang tumbuh dengan luka, tapi juga dengan tekad, bahwa hidup ini tidak harus berhenti dititk dimana ia dimulai. Aku tidak bisa mengubah awal hidupku, tapi aku bisa memilih bagaimana aku melangkah sekarang.

Dan meski kadang dunia membuatku ingin menyerah, aku tau, bertahan adalah bentuk keadilan kecil yang bisa kulawan dari dalam. Bertahan adalah Caraku melawan: aku memang tidak dipilih untuk diberi kemudahan, tapi aku tetap punya suara, tetap punya hak, tetap punya nilal. Dan meski tak ada yang menjanjikan hidup akan lebih mudah.

Aku tetap akan berjalan. Bukan karena aku tidak lelah. Tapi karena aku tau, dari semua yang tak bisa kupilih dalam hidupku, aku masih punya satu kekuatan yang dunia tak bisa rampas: pilihanku untuk terus ada.

Kita dilahirkan tidak sama, tapi kita tetap ada. Dan keberadaan kita, meski dunia tak menganggapnya penting, tetap berarti. Dan itu sudah cukup untuk memberikan perlawan terhadap ketidak mungkinan.

Berterimakasihlah pada Tubuh. Bahwa ia sudah mampu membawa hidup ini melangkah jauh. Meski berdarah-darah, tertatih-tatih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan kita yang panjang.

Cinta yang Jatuh atau Hati yang Patah

Aku yang melangkah Pertama